Saturday, 27 May 2017

Bahaya kemasan Kerta produk makanan dan cara membedakan kemasan Kerta makanan yang aman

Sepertinya memang pribahasan akan tetap menjadi pribahasan, karena pada kenyataanya orang yang mengenal pribahasan belum tentu sudah mengaplikasikannya dalam kehidupannya sehari-hari. Contoh saja seperti pribahasan tentang “Don’t judge a book by its cover” ini adalah pribahasan yang sudah cukup terkenal dimasyarakat tapi kenyatannya pada kehidupan sehari-hari kita terbiasa menilai sesuatu dengan tampilan luarnya. Padahal kebiasaan menilai sesuatu dari penampilannya tidak akan berlaku pada kemasan sebuah produk. Karena Kemasaran produk yang menarik tidak selalu memiliki keamanan dan kesehatan bagi konsumennya.

Kebiasaan yang dilakukan masyarakat dengan menilai dari kemasan produk pernah dipaparkan dalam sebuah penelitian yang menyatakan keputusan pembeli terhadap produk di pengaruhi oleh kemasan hingga 70%, hal ini juga yang dimanfaatkan oleh para produsen untuk membuat kemasan yang menarik dari produknya. Sayangnnya, Kebanyakan produsen menanggapi penelitian ini hanya dengan satu sudut pandang yaitu mencapai penjualan yang baik dengan kemasan yang menarik, namun masih sedikit para produsen yang juga mempertimbangkan unsure keamanan dan kesehatan dari produk tersebut. Karena Kebanyaakan dari produsen focus hanya terhadap kemasan yang paling murah dan menarik tanpa memperhatikan factor keamaanan dan kesehatannya.

Dalam diskusi Standar Nasional Indonesia di Jakarta disebutkan bahwa “ Hal ini yang jadi masalah di Indonesia. Masyarakat belum terbiasa dengan kemasan pangan yang aman. Mereka mengganggap asalkan bersih, cetakannya bagus, harganya murah langsung diambil,” Dan yang lebih menyedihkan lagi berdarakan pemantauan di pasar banyak pelaku bisnis makanan dan minuman yang ada di Indonesia sebagian besar menggunakan kemasan produk daur ulang yang mestinya kemasaan ini tidak boleh digunakan dalam kemasan produk makanan karena mengandung zat kima yang berbahaya.

Hal yang lebih menyedihkan lagi adalah adanya perusahan waralaba yang terkenal dimasyarakat bahkan sudah mendunia terbukti menggunakan kemasan pangan yang berbahaya. Walaupun dampak dari kemasan kemasan yang berbahaya tidak dirasakan secara langsung oleh konsumen dalam jangka pendek, tetapi dari akumulasi penggunaan yang panjang akan berdampak pada kesehatan seperti timbulnya kanker dan lainya. Terlebih lagi jika hal ini dikonsumsi oleh anak anak yang masih dalam massa pertumbuhan akan lebih sangat berbahaya. Fakta ini didukung setelah diperoleh data dari Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), yang menyebutkan bahwa 80 persen kemasan produk makanan yang beredar di lapangan tidak aman untuk kesehatan.

Cara Membedakan Kemasan Kertas Makanan yang Aman

Sebenarnya pengamatan untuk membedakan kemasan yang aman dan tidak dapat juga dilakukan secara kasat mata yaitu dengan melihat kemasan makanan berwarna gelap atau putih. Biasnya kemasan yang berwarna putih tanpa bercak cenderung aman sedangkan kemasan pangan berbahaya, berwarna cokelat atau abu-abu.

Hal ini dikarenakan pada proses pembuatan sebuah kemasan pangan yang aman biasnya cenderung tidak meninggalkan bercak atau tinta seperti kemasan donut. Sedangkan kemasan berbahaya biasanya lewat proses daur ulang kemasan. Dalam proses daur ulang sebuah kertas atau karton bekas akan menghasilkan bentuk warna yang berbeda dan tidak bisa dihilangkan.

Dalam Edaran Badan Standar Nasional Indonesia sudah disebutkan untuk criteria kerta dan karton yang memenuhi standar SNI. Yaitu jenis kertas kemasan primer yang digunakan untuk ‎membungkus produk makanan. Sedangkan kertas kemasan makanan dibagi dua macam, kertas kemasan gramatur rendah dan tinggi. Yang dimaksud kemasan primer disini adalah bahan yang bersentuhan langsung dengan pangan.

Untuk kemasan produk makanan jenis kertas dan karton yang memenuhi SNI adalah‎ lulus uji sesuai persyaratan dengan parameter fisik meliputi gramatur, kekauan, ketahanan ikatan antar lembaran, ketahanan tarik, dan daya serap air. Selain itu produk juga telah lolos uji parameter yang terkait aspek keamanan, kesehatan, dan keselamatan lingkungan (K3L) yaitu kandungan logam berat, kandungan formaldehid, kandungan pentaklorofenol, migrasi total, dan migrasi senyawa ftalat.


Karena Efek zat kimia pada kemasan daur ulang cukup berbahaya untuk kesehatan konsumen, sebagai produsen Anda wajib tahu tentang pentingnya pemilihan bahan kemasan. Dan Anda sebagai konsumen lebih cerdar memilah dan memilih produsen mana saja yang menggunakan kemasan yang hegienis dan juga yang menggunakan kemasan daur ulang. Semoga informasi tersebut bermanfaat bagi pengusaha produsen makanan agar usaha lebih halal dan juga konsumen agar lebih bijak dalam berbelanja makanan khususnya.

0 komentar:

Post a Comment

Text Widget

Copyright © Healthy life style | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com