Sepertinya
memang pribahasan akan tetap menjadi pribahasan, karena pada kenyataanya orang
yang mengenal pribahasan belum tentu sudah mengaplikasikannya dalam kehidupannya
sehari-hari. Contoh saja seperti pribahasan tentang “Don’t judge a book by its
cover” ini adalah pribahasan yang sudah cukup terkenal dimasyarakat tapi
kenyatannya pada kehidupan sehari-hari kita terbiasa menilai sesuatu dengan
tampilan luarnya. Padahal kebiasaan menilai sesuatu dari penampilannya tidak
akan berlaku pada kemasan sebuah produk. Karena Kemasaran produk yang menarik
tidak selalu memiliki keamanan dan kesehatan bagi konsumennya.
Kebiasaan yang dilakukan masyarakat
dengan menilai dari kemasan produk pernah dipaparkan dalam sebuah penelitian
yang menyatakan keputusan pembeli terhadap produk di pengaruhi oleh kemasan
hingga 70%, hal ini juga yang dimanfaatkan oleh para produsen untuk membuat
kemasan yang menarik dari produknya. Sayangnnya, Kebanyakan produsen menanggapi
penelitian ini hanya dengan satu sudut pandang yaitu mencapai penjualan yang
baik dengan kemasan yang menarik, namun masih sedikit para produsen yang juga
mempertimbangkan unsure keamanan dan kesehatan dari produk tersebut. Karena
Kebanyaakan dari produsen focus hanya terhadap kemasan yang paling murah dan
menarik tanpa memperhatikan factor keamaanan dan kesehatannya.
Dalam diskusi Standar Nasional
Indonesia di Jakarta disebutkan bahwa “ Hal ini yang jadi masalah di Indonesia.
Masyarakat belum terbiasa dengan kemasan pangan yang aman. Mereka mengganggap
asalkan bersih, cetakannya bagus, harganya murah langsung diambil,” Dan yang
lebih menyedihkan lagi berdarakan pemantauan di pasar banyak pelaku bisnis
makanan dan minuman yang ada di Indonesia sebagian besar menggunakan kemasan
produk daur ulang yang mestinya kemasaan ini tidak boleh digunakan dalam
kemasan produk makanan karena mengandung zat kima yang berbahaya.
Hal yang lebih menyedihkan lagi
adalah adanya perusahan waralaba yang terkenal dimasyarakat bahkan sudah
mendunia terbukti menggunakan kemasan pangan yang berbahaya. Walaupun dampak
dari kemasan kemasan yang berbahaya tidak dirasakan secara langsung oleh
konsumen dalam jangka pendek, tetapi dari akumulasi penggunaan yang panjang
akan berdampak pada kesehatan seperti timbulnya kanker dan lainya. Terlebih
lagi jika hal ini dikonsumsi oleh anak anak yang masih dalam massa pertumbuhan
akan lebih sangat berbahaya. Fakta ini didukung setelah diperoleh data dari
Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), yang menyebutkan bahwa 80 persen
kemasan produk makanan yang beredar di lapangan tidak aman untuk
kesehatan.
Cara Membedakan Kemasan Kertas
Makanan yang Aman
Sebenarnya pengamatan untuk
membedakan kemasan yang aman dan tidak dapat juga dilakukan secara kasat mata
yaitu dengan melihat kemasan makanan berwarna gelap atau putih. Biasnya kemasan
yang berwarna putih tanpa bercak cenderung aman sedangkan kemasan pangan
berbahaya, berwarna cokelat atau abu-abu.
Hal ini dikarenakan pada proses
pembuatan sebuah kemasan pangan yang aman biasnya cenderung tidak meninggalkan
bercak atau tinta seperti kemasan donut. Sedangkan kemasan berbahaya biasanya
lewat proses daur ulang kemasan. Dalam proses daur ulang sebuah kertas atau karton
bekas akan menghasilkan bentuk warna yang berbeda dan tidak bisa dihilangkan.
Dalam Edaran Badan Standar Nasional
Indonesia sudah disebutkan untuk criteria kerta dan karton yang memenuhi
standar SNI. Yaitu jenis kertas kemasan primer yang digunakan untuk
membungkus produk makanan. Sedangkan kertas kemasan makanan dibagi
dua macam, kertas kemasan gramatur rendah dan tinggi. Yang dimaksud
kemasan primer disini adalah bahan yang bersentuhan langsung dengan pangan.
Untuk kemasan produk makanan jenis
kertas dan karton yang memenuhi SNI adalah lulus uji sesuai persyaratan dengan
parameter fisik meliputi gramatur, kekauan, ketahanan ikatan antar lembaran,
ketahanan tarik, dan daya serap air. Selain itu produk juga telah lolos uji
parameter yang terkait aspek keamanan, kesehatan, dan keselamatan lingkungan
(K3L) yaitu kandungan logam berat, kandungan formaldehid, kandungan
pentaklorofenol, migrasi total, dan migrasi senyawa ftalat.
Karena Efek zat kimia pada kemasan
daur ulang cukup berbahaya untuk kesehatan konsumen, sebagai produsen Anda
wajib tahu tentang pentingnya pemilihan bahan kemasan. Dan Anda sebagai
konsumen lebih cerdar memilah dan memilih produsen mana saja yang menggunakan
kemasan yang hegienis dan juga yang menggunakan kemasan daur ulang. Semoga informasi
tersebut bermanfaat bagi pengusaha produsen makanan agar usaha lebih halal dan
juga konsumen agar lebih bijak dalam berbelanja makanan khususnya.

0 komentar:
Post a Comment